Kamis, 01 Maret 2018

Apple Case Original

Apple sebagai sebuah perusahaan IT dengan berbagai macam produk teknologi unggulan, selain canggih ternyata juga memiliki selera seni yang sangat tinggi. Jika dilihat dari produk produk yang sudah dihasilkan sejak era Steve Job kembali lagi ke Apple pada sekitar tahun 2000an, terlihat desain bentuk produk teknologi Apple sangat cantik, menawan dan ber selera seni tinggi. Tidak jarang Apple menjadi trend setter bagi produk lain sejenis. Meskipun hal ini kadang menjadi bumerang, tuduhan plagiat yang justru dituduhkan kepada Apple oleh kompetitor nya. 
Berbicara mengenai selera seni yang tinggi tidak luput juga dari produk Apple non teknologi yaitu Case. Atau yang kadang lebih kita kenal dengan casing, chasing, atau apapun istilah nya. Intinya produk pelindung tambahan untuk dipasang pada perangkat iDevice kesayangan. Terhitung sejak era iPad, Apple sudah memproduksi Case sendiri dengan kualitas premium, dan tentu menambah nilai estetika dari produk tersebut. Dengan kualitas bahan pilihan Apple cukup serius memproduksi sendiri Case dengan merk Apple atau di Online Store nya biasa dikategorikan Made by Apple-bersanding dengan produk aksesori lain buatan Apple. 
Setelah iPad Case, Apple membuat lagi case untuk iphone 5s. Tidak tanggung tanggung, jika pada produk case sebelumnya Apple menggunakan bahan silicone, pada case iPhone 5s ini Apple menggunakan bahan Kulit Eropa. 

Foto case iPhone 5s Brown keluaran awal. Ketika itu hanya ada beberapa pilihan warna, Selain coklat ada kuning, biru muda, hitam, dan merah. Pada produk awal ini, Apple menjual Case dengan harga 50 SGD. Pada bagian dalam menggunakan bahan Satin halus yang dijamin tidak akan membuat lecet perangkat iPhone. Pemasangannya pun sangat mudah, semudah melepaskan case ini dari iPhone. Berbeda dengan case buatan pihak ketiga yang terkadang cukup susah di pasang maupun dilepas. Bahkan beberapa meninggalkan bekas goresan pada body iPhone. Pada bagian dalam hanya terdapat tulisan "iPhone dan Made in...."
Pada generasi selanjutnya, Apple juga mengeluarkan untuk iPhone 6. Hanya sesaat sebelum dia mengeluarkan untuk iPhone 6s dan 6s Plus. Memang kedua iPhone ini tidak terdapat perbedaan dimensi, namun pada seri case iPhone 6s dan 6s Plus terdapat perbedaan pada bagian dalam. Mungkin saking banyaknya case palsu yang biasa disebut OEM (jika tidak mau dibilang KW), 1:1 Quality, Like Original with logo, atau apapun sebutannya. Maka pada edisi baru Apple menambahkan logo leather. (Meskipun sekarang pun yang palsu ada logo leather.... 😒😒😑😩)

Selain membuat Case dengan bahan kulit Eropa (Leather), Apple membuat Case dengan bahan Silicon untuk iPhone. Namun secara kualitas, Case kulit tetap paling baik, nyaman digenggam, dengan harga yag cukup.... mahal. 

Selain itu, bahan Silicone ini cukup licin. Namun masih layak untuk dikoleksi dengan harga yang lebih bersahabat. Untuk case yang berbahan kulit, akan terjadi perubahan warna karena pemakaian. Selain itu butuh perawatan extra untuk bahan kulit agar tetap indah dipandang. 
Semoga menginspirasi. 

Jumat, 19 Januari 2018

iPhone X. New iPhone with Face ID

iPhone telah genap berumur 10 tahun sejak iPhone 2G pertama diluncurkan. Kehadiran iPhone X menandai 10 tahun produk Apple iPhone. iPhone X dirilis bersamaan dengan dua seri iPhone lainnya kaitu iPhone 8 dan iPhone 8+. iPhone X cukup berbeda dengan pendahulunya dari segi fisik. Hadir dengan layar penuh 5,8 inch, dual kamera dengan posisi horizontal, namun dengan ukuran tak lebih besar dari varian iPhone seri Plus. Ya, dengan layar penuh memungkinkan ukuran iPhone X hanya sedikit lebih besar dari iPhone 8 namun memiliki layar lebih besar dari iPhone 8+.
Dirilis bersamaan, iPhone X mempunyai fitur hampir mirip dengan 8 dan 8+, hanya ada beberapa perbedaan seperti OIS yang terdapat pada dual kamera belakang nya, kamera depan yang mendukung Potrait Selfie, dan tentu teknologi keamanan baru Face ID. Tanpa home button membuat iPhone X harus menggunakan teknologi pengaman lain selain Touch ID yang sudah ada sejak iPhone 5s.
Sepintas, teknologi ini yang cukup menarik bagi saya selaku pengguna iPhone 6s Plus yang belum berniat mengganti perangkat ini, sampai akhirnya iPhone X mengambil hati saya untuk memaksa membeli dengan sekuat tenaga :D.

                                                  



Sengaja memilih varian Space Grey daripada White yang malah menyerupai iPhone 4 dan 4s. Ya, iPhone X menggunakan bahan kaca di bagian belakang karena sudah mendukung teknologi Wireless Charging seperti pada iPhone 8 dan 8+.
Pada saat aktivasi, cukup mudah untuk melakukan pengaturan otomatis, hanya dengan mendekatkan iPhone 6s plus dengan iPhone X maka informasi Account akan ter transfer otomatis (mungkin teknologi NFC).



Sampai pada pengaturan yang ditunggu. Face ID



Berbeda dengan Touch ID yang bisa menyimpan hingga 5 data jari, Face ID hanya bisa menyimpan satu wajah.
Untuk menambah keamanan, ada pengaturan Face ID akan aktif jika kita sadar (membuka mata). Atau, asal ada wajah kita dia akan aktif. Pengaturan ini terdapat pada Security. Jika kita memilih mata terbuka dan melihat kamera, menurut saya ini opsi paling aman. Problem muncul ketika kita butuh menggunakan iPhone X untuk menelepon ketika menyetir. Hal ini menjadi cukup merepotkan dan membahayakan (mungkin bisa disolusikan dengan Hey Siri, atau membeli headunit mobil yang terintegrasi dengan iPhone).
Face ID dapat terbuka meskipun di dalam ruang theatre gedung bioskop yang gelap saat film diputar.
Problem kedua yang muncul ketika memakai helm, maka Face ID tidak akan mengenali. Hal ini cukup merepotkan ketika kita menggunakan transportasi online, memakai helm, dan ingin mengoperasikan iPhone X. :D
Dua hal ini yang membuat saya merasa "harus berkompromi" dengan teknologi baru ini. Membeli Head Unit baru, dan tidak bermain iPhone X ketia memakai helm. :D

Sebuah teknologi baru butuh adaptasi. Terimakasih sudah membaca review ini. :)

Senin, 04 Desember 2017

1More iBfree in ear monitor bluetooth

well..... ada barang baru yang barusan saya review. Sebuah in ear monitor bluetooth dari pabrikan 1More. Dengan rentang harga US$ 100, in ear monitor ini mempunyai kualitas yang sesuai dengan harganya. Dalam paket penjualan terdapat 3 pilihan earbud size, dan 3 pilihan karet grip nya. Small, Medium, Large. Dengan size Medium yang sudah terpasang, in ear monitor ini memberikan kenyamanan ketika pertama saya mencoba nya di Jaben Network - The Little Headphone Store. Jaben sendiri merupakan sebuah toko audio yang fokus dalam bidang penjualan headphone dan earphone (termasuk in ear ya), merupakan toko yang pertama saya temui di Singapore sekitar Coleman Street (cek di JABEN | OUR STORES). 1more sendiri kalau tidak salah merupakan anak perusahaan Xiaomi (atau pembuat earphone untuk Xiaomi yaa...(?) . (cek 1MORE iBFree BLUETOOTH IN-EAR SPORT HEADPHONES ...).
Overall, saya cukup nyaman dengan in ear monitor ini. Namun jangan dibandingkan dengan Apple Airpods, secara harga yang berbeda sangat jauh. In ear monitor 1More cukup nyaman untuk digunakan sehari hari dan tidak takut jatuh. Baterai dengan daya tahan hingga 10 jam sekali full charge. 1More ibfree patut dicoba bagi Anda yang membutuhkan in ear monitor wireless yang simpel dengan harga terjangkau dan kualitas yang... sesuai harga nya.




Minggu, 23 Juli 2017

Negeri Di Awan (cover version)





Seiler Piano play by me. Negeri di Awan. Singapore 2017

Selasa, 13 Juni 2017

Wings Of Time.. Sentosa Island

Hello....masih seputar Singapore, setelah saya membahas tentang per Apple an di negeri Singa, kita belok sedikit ke sebuah pertunjukan "spektakuler" di pantai di Singapura yang terletak di Sentosa Island. Wings Of Time
Ya, pertunjukan ini sebelumnya menampilkan dengan tema Song of The Sea. Song of The Sea sendiri diputar (mungkin) sejak 2010. Sampai 2013, kemudian diganti dengan pertunjukan baru yaitu Wings of Time. 
Pertunjukan ini cukup spektakuler dimana memadukan antara air mancur, kembang api, laser dan tentunya suasana pantai. Secara teknologi pertunjukan ini layak diacungi jempol dimana air mancur di semprot dengan sangat indah dan megah, selain itu air disini berfungsi juga sebagai "screen" dari laser yang menampilkan efek dan tokoh dalam cerita. Ini sangat menarik, kemudian semburan api dan kembang api yang dahsyat. Untuk tata suara, sangat cukup untuk sebuah pertunjukan outdoor.
Yang cukup disayangkan dari tema Wings of Time yang menceritakan sebuah burung yang mampu melakukan perjalanan menambus ruang dan waktu membawa tokoh yang diperankan dua orang laki laki dan perempuan untuk pergi ke masa lalu dimana masa ketika burung ini hidup. Burung ini ditemukan secara tidak sengaja oleh dua orang tokoh ini di dalam sebuah gua batu. Selebihnya mengandalakn atraksi kembang api, api, dan air juga laser. Sampai pada akhir cerita kedua tokoh ini kembali lagi ke masa sekarang. Tamat
Pertunjukan ini berdurasi sekitar 20 menit dengan harga tiket 28SGD untuk kursi biasa dan 38SGD untuk VIP. Termasuk bonus minum dan snack juga souvenir kipas. 
Untuk menambah pengalaman, pertunjukan ini baik juga untuk di tonton, namun jika pertunjukan di Marina Bay Sands sudah dibuka lagi dengan judul Wonderfull Singapore, saya merasa pertunjukan di Marina Bay lebih baik content nya dan juga gratis. Sayang nya pertunjukan yang sudah ada sekitar 6 tahun ini mulai April 2017 sedang dihentikan dengan alasan Maintenance. 

Semoga bermanfaat

Denon Envaya Mini DSB 100.. size doesn't matter

Hello...... kali ini saya ingin membagikan pengalaman menggunakan salah satu produk speaker mobile wireless. Denon Envaya Mini dengan seri DSB 100. 
Sepintas, perangkat ini mirip kotak pensil. Cukup unik untuk bentuk sebuah speaker wireless. Denon merupakan merk yang tidak asing bagi penyuka audio. Bukanlah merk dan pemain baru di dunia per audio an. Teman seangkatannya seperti JBL, Bose yang sudah lebih dahulu bermain di speaker wireless tidak membuat Denon ragu untuk mengeluarkan produk Envaya Mini. 
Jika dilihat dari ukurannya, speaker ini tergolong kecil dan ramping dibandingkan dengan kompetitor seperti JBL Flip, maupun Bose Soundlink Mini. Pada uji coba yang saya lakukan dengan menggunakan lagu Diana Karl Lets Fall In Love, saya agak kaget dengan kualitas suaranya. Terutama untuk low frequency nya. Envaya Mini mampu menghadirkan low frequency yang mantap, bahkan pada volume kecil. Namun frequency high cenderung kurang. Namun masih dalam kualitas yang cukup. Untuk frequency mid cukup warmth. Dibandingkan dengan JBL Flip 3 untuk rentang harga yang sama, Envaya Mini memberikan frequency response secara keseluruhan lebih baik. Untuk dapat menghasilkan semua frequency tidak dibutuhkan volume yang keras, sedangkan pada JBL FLip 3 untuk dapat mendapat low frequency yang baik volume harus cukup tinggi.
Untuk masalah konektivitas, Envaya Mini tergolong paling lengkap. Dimana terdapat koneksi NFC selain Bluetooth dan 3,5mm Auxilary Input. Selain itu Envaya Mini sudah mendukung aptX dimana latency menjadi cukup kecil. NAmun pengaturan volume nya belum menyatu dengan perangkat. Sehingga kita harus mengatur secara terpisah volume pada speaker dan volume pada perangkat pemutar musik. 
Untuk daya baterai, secara teknis mendukung hingga 10 jam.namun pada kenyataannya baterai hanya mampu bertahan sekitar 6 jam saja. Cukup jauh dibanding dengan JBL Flip yang mampu bertahan 10 jam. Dengan waktu pengisian daya sekitar 2,5 jam menggunakan adaptor 2 Amp (dijual terpisah). 
Di dalam paket penjualan, hanya terdapat speaker, pouch bludru, kabel usb micro dan buku manual. Packing cukup mewah dan rapi, tidak seperti JBL yang sangat sederhana. Untuk urusan packing Denon hampir menyerupai Harman Kardon, memperhatikan detil kecil. Untuk berat Denon Envaya Mini sedikit lebih berat dibandingkan JBL Flip 3. 
Akhir kata, Denon Envaya Mini cukup layak dipertimbangkan untuk dimiliki karena secara keseluruhan kualitas suara lebih baik daripada JBL Flip 3, stereo imaging lebih terasa. Sepintas saya bisa mengakatan Envaya Mini ini sebagai Entry level sebelum Anda mencoba Bose Soundlink Mini. Namun, pendapat Anda hak Anda, silahkan mencoba sendiri dan tulis review Anda sendiri. :)
Semoga bermanfaat